Kampar  

Prof. Dr. Amir Lutfi Kembali Berpidato di Universitas Pahlawan, Kisah Anak Kampung Pulau yang Menembus Dunia Pendidikan Di Belanda dan Eropa Tembus 5 Benua 

KAMPAR — Prof. Dr. Amir Lutfi kembali menyampaikan pidato di lingkungan Universitas Pahlawan, Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar. Dalam kesempatan tersebut, ia mengisahkan perjalanan hidup dan rekam jejaknya di dunia pendidikan yang penuh perjuangan.

Di hadapan civitas akademika, Prof. Dr. Amir Lutfi mengenang masa mudanya sebagai seorang anak kampung berasal dari kampung kecil Pulau. Ia mengatakan, keterbatasan kehidupan di masa lalu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus belajar dan menempuh pendidikan setinggi mungkin.

“Saya dulu orang kampung, anak kampung Pulau. Berkat kegigihan saya ingin belajar, saya kuasai bahasa lima benua,” ungkap Prof. Amir Lutfi.

Menurutnya, perjalanan pendidikan dan pengabdiannya kemudian membawanya ke berbagai pengalaman, termasuk di tingkat nasional dan internasional.

Prof. Amir Lutfi juga menyampaikan bahwa dirinya pernah dipercaya selama tiga periode menjadi anggota MPR. Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Rektor UIN Suska Riau selama dua periode.

Dalam perjalanan tersebut, ia turut menceritakan keterlibatannya dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi di Riau. Ia mengaku ikut berperan dalam upaya mencari dukungan dan pendanaan untuk pembangunan berbagai fasilitas pendidikan.

“Saya juga pernah menjadi rektor UIN Suska Riau dua periode. Mendirikan UIN itu, saya dengan bangunan gedung UIN yang megah seperti sekarang ini, saya yang mencari dananya,” tuturnya.

Pernah Diminta Menjadi Bos Tukang Jahit

Perjalanan hidup Prof. Amir Lutfi tidak selalu berjalan mulus. Sebelum menempuh pendidikan tinggi hingga ke luar negeri, ia mengaku pernah mendapat arahan dari ayahnya untuk menekuni pekerjaan sebagai pengusaha atau bos tukang jahit.

Namun, kecintaannya terhadap pendidikan membuatnya memilih jalan berbeda.

Alih-alih meneruskan pekerjaan tersebut, ia memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bahkan hingga ke negeri Belanda dan sejumlah negara di Eropa untuk menuntut ilmu.

Pilihan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya di dunia akademik.

Dijuluki “Datuk Bandaro Sati”

Di tengah masyarakat Kampar, nama Prof. Dr. Amir Lutfi juga memiliki kisah tersendiri. Selain menyandang  title Profesor ia juga dijuluki “Datuk Bandaro sati” dalam  pucuk adat kenegerian  12 Bangkinang.

Julukan tersebut menjadi bagian dari kedekatan dirinya dengan budaya dan adat istiadat masyarakat setempat.

Kini, Prof. Dr. Amir Lutfi tetap aktif dalam dunia pendidikan dan pengembangan perguruan tinggi. Ia dipercaya sebagai pimpinan di Universitas Pahlawan, Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar.

Kisah perjalanan hidupnya dari seorang anak kampung hingga menjadi profesor dan tokoh pendidikan menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita.

Semangat belajar, kegigihan, serta keberanian mengambil kesempatan menjadi modal penting yang mengantarkan Prof. Dr. Amir Lutfi menapaki perjalanan panjang di dunia pendidikan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Dari kampung menuju perguruan tinggi dunia, pendidikan menjadi jalan yang saya pilih untuk mengubah kehidupan,” menjadi pesan yang tergambar dari kisah perjalanan panjangnya.

 

Penulis: Dani